Sekura: Tradisi Masyarakat Saibatin yang Merawat Silaturahmi dan Identitas Budaya

Sekura merupakan tradisi budaya masyarakat Saibatin di Lampung yang identik dengan topeng, kostum unik, dan perayaan pasca-Lebaran. Simak sejarah, jenis, dan makna budayanya.

- Editor

Rabu, 3 Juni 2026 - 09:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pesta Sekura di Lampung Barat | Foto: Ist.

Pesta Sekura di Lampung Barat | Foto: Ist.

Inti LampungBudaya Lampung | Ketika Hari Raya Idulfitri tiba, sejumlah wilayah di Lampung bagian barat memiliki cara tersendiri untuk merayakannya. Di tengah suasana silaturahmi dan kegembiraan, masyarakat menggelar tradisi yang dikenal dengan nama Sekura.

Banyak orang mengenal Sekura melalui topeng-topeng unik dan kostum yang mencuri perhatian. Namun bagi masyarakat yang menjalankannya, tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar hiburan rakyat.

Sekura menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Lampung Saibatin yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, tradisi tersebut masih hidup dan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Apa Itu Sekura?

Sekura merupakan tradisi budaya bertopeng yang berkembang di wilayah budaya masyarakat Saibatin, terutama di kawasan yang kini mencakup Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pesisir Barat.

Dalam tradisi ini, peserta mengenakan topeng dan berbagai jenis kostum, lalu berbaur dengan masyarakat dalam suasana yang penuh kegembiraan.

Meski topeng menjadi unsur yang paling mudah dikenali, Sekura sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan penutup wajah. Tradisi ini juga mencakup interaksi sosial, silaturahmi, pertunjukan budaya, dan perayaan bersama yang melibatkan masyarakat luas.

Karena itu, banyak pemerhati budaya memandang Sekura sebagai tradisi budaya bertopeng, bukan sekadar topeng itu sendiri.

Di Mana Tradisi Sekura Dilaksanakan?

Saat ini, Sekura paling sering dikaitkan dengan Kabupaten Lampung Barat. Namun tradisi ini memiliki hubungan yang erat dengan wilayah budaya masyarakat Saibatin yang secara historis juga mencakup kawasan Pesisir Barat.

Beberapa pekon atau desa memiliki tradisi Sekura yang masih aktif hingga sekarang. Pelaksanaannya dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya, baik dari segi bentuk kegiatan maupun detail tradisinya.

Keragaman tersebut menunjukkan bahwa Sekura terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat yang menjaganya.

Kapan Tradisi Sekura Digelar?

Masyarakat biasanya menggelar Sekura setelah Hari Raya Idulfitri. Pada masa tersebut, warga dari berbagai usia berkumpul untuk mengikuti rangkaian kegiatan budaya dan hiburan rakyat. Suasana yang tercipta sering kali meriah karena melibatkan banyak peserta dan penonton.

Waktu pelaksanaan yang berdekatan dengan Idulfitri membuat Sekura identik dengan semangat silaturahmi dan kebersamaan. Bagi banyak warga, tradisi ini menjadi salah satu momen yang paling ditunggu setiap tahun.

Asal-Usul Sekura yang Masih Menjadi Perbincangan

Tidak semua sumber menjelaskan asal-usul Sekura dengan cara yang sama. Sejumlah kajian budaya menyebut bahwa tradisi ini memiliki akar yang sangat tua dan telah berkembang dalam kehidupan masyarakat setempat sejak lama.

Baca Juga :  Pj Gubernur Samsudin Minta Anak Muda Lestarikan Seni dan Budaya Lampung

Ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan tradisi masyarakat sebelum masuknya Islam ke wilayah Lampung. Seiring waktu, tradisi tersebut kemudian beradaptasi dengan kehidupan masyarakat Muslim dan berkembang menjadi bagian dari perayaan pasca-Lebaran.

Selain itu, beberapa cerita lisan juga menghubungkan Sekura dengan masa-masa ketika masyarakat menggunakan penyamaran untuk melindungi identitas mereka dalam situasi tertentu.

Karena terdapat berbagai versi yang berkembang, para peneliti umumnya tidak menetapkan satu penjelasan tunggal mengenai asal-usul Sekura.

Mengenal Sekura Betik dan Sekura Kamak

Salah satu hal menarik dalam tradisi Sekura adalah adanya variasi bentuk yang dikenal masyarakat. Dua istilah yang paling sering muncul adalah Sekura Betik dan Sekura Kamak.

Sekura Betik

Sekura Betik biasanya tampil dengan kostum yang lebih rapi dan tertata. Peserta mengenakan pakaian yang bersih dan menarik, sehingga menciptakan kesan anggun sekaligus menghibur.

Dalam berbagai kegiatan budaya, penampilan Sekura Betik sering menjadi daya tarik tersendiri karena memperlihatkan kreativitas masyarakat dalam merancang kostum.

Sekura Kamak

Berbeda dengan Sekura Betik, Sekura Kamak tampil lebih bebas dan unik. Peserta dapat menggunakan berbagai bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, termasuk dedaunan, ranting, karung, atau barang-barang yang sudah tidak terpakai.

Penampilannya yang tidak biasa sering menghadirkan unsur humor dan hiburan yang membuat suasana perayaan semakin meriah.

Meski memiliki tampilan yang berbeda, keduanya sama-sama menjadi bagian dari tradisi Sekura yang hidup di tengah masyarakat.

Mengapa Peserta Menggunakan Topeng?

Topeng merupakan salah satu unsur paling penting dalam Sekura. Dengan menggunakan topeng, peserta dapat berinteraksi tanpa menonjolkan identitas pribadi mereka.

Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam perayaan, terlepas dari latar belakang sosial maupun status yang dimiliki.

Sebagian kalangan juga melihat penggunaan topeng sebagai simbol bahwa kebersamaan lebih penting daripada perbedaan yang ada di tengah masyarakat.

Karena itu, topeng dalam Sekura tidak hanya berfungsi sebagai properti budaya, tetapi juga mengandung makna sosial yang kuat.

Sekura sebagai Ruang Silaturahmi

Di balik kemeriahan kostum dan topeng, fungsi sosial Sekura menjadi salah satu alasan mengapa tradisi ini tetap bertahan. Tradisi ini mempertemukan warga yang mungkin jarang bertemu dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berkumpul, berbincang, dan merayakan suasana Lebaran bersama-sama.

Baca Juga :  Kain Tapis Lampung: Sejarah, Motif, dan Makna Warisan Budaya yang Tetap Lestari

Dalam konteks tersebut, Sekura berperan sebagai sarana untuk memperkuat hubungan sosial dan menjaga rasa kebersamaan dalam masyarakat. Nilai inilah yang membuat Sekura tetap relevan hingga sekarang.

Bagaimana Sekura Bertahan di Era Modern?

Perubahan zaman membawa tantangan bagi banyak tradisi budaya, termasuk Sekura. Namun masyarakat, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan generasi muda terus berupaya menjaga keberlangsungannya melalui berbagai kegiatan pelestarian.

Saat ini, Sekura tidak hanya hadir dalam lingkungan adat, tetapi juga tampil dalam festival budaya, kegiatan pendidikan, dan promosi pariwisata daerah.

Langkah tersebut membantu memperkenalkan tradisi ini kepada masyarakat yang lebih luas tanpa menghilangkan identitas budayanya.

Mengapa Sekura Penting untuk Dilestarikan?

Sekura merupakan salah satu warisan budaya yang mencerminkan kreativitas, kebersamaan, dan identitas masyarakat Saibatin.

Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjaga bentuk budaya yang diwariskan oleh leluhur, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai sosial yang masih relevan dalam kehidupan modern.

Pelestarian Sekura membantu memastikan bahwa generasi mendatang tetap dapat mengenal salah satu tradisi budaya yang menjadi bagian dari kekayaan Lampung.

Fakta Menarik tentang Sekura

  1. Sekura identik dengan penggunaan topeng dan kostum unik.
  2. Tradisi ini biasanya berlangsung setelah Hari Raya Idulfitri.
  3. Sekura berkembang di wilayah budaya masyarakat Saibatin.
  4. Masyarakat mengenal bentuk Sekura Betik dan Sekura Kamak.
  5. Selain menjadi hiburan rakyat, Sekura juga berfungsi sebagai sarana silaturahmi.

Kesimpulan

Sekura merupakan tradisi budaya bertopeng yang hidup dalam masyarakat Saibatin di wilayah Lampung bagian barat. Tradisi ini tidak hanya menghadirkan hiburan dan kemeriahan, tetapi juga menjadi ruang yang memperkuat silaturahmi dan menjaga identitas budaya masyarakat.

Di tengah berbagai perubahan yang terjadi, Sekura tetap menunjukkan bahwa warisan budaya dapat bertahan ketika masyarakat terus menjaga dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Catatan untuk Pembaca: Artikel ini dirangkum dari berbagai referensi yang dianggap kredibel, termasuk kajian akademik, dokumentasi budaya, serta sumber-sumber lain yang relevan. Budaya Lampung merupakan warisan yang kaya dan beragam, sehingga terdapat kemungkinan perbedaan pemahaman, istilah, maupun praktik adat antara satu daerah, marga, keratuan, atau komunitas dengan yang lain. Oleh karena itu, informasi yang disajikan dalam artikel ini dimaksudkan sebagai gambaran umum dan bahan pembelajaran, serta tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh perspektif yang ada di tengah masyarakat Lampung.

Berita Terkait

Tari Sigeh Pengunten: Sejarah, Makna, dan Filosofi Tarian Penyambutan Khas Lampung
Nuwo Sesat: Fungsi, Filosofi, dan Peran Balai Adat dalam Masyarakat Lampung
Kain Tapis Lampung: Sejarah, Motif, dan Makna Warisan Budaya yang Tetap Lestari
Siger Lampung: Sejarah, Makna, dan Filosofi Mahkota Ikonik dari Bumi Ruwa Jurai
Lampung Saibatin dan Pepadun: Mengenal Dua Adat Besar Masyarakat Lampung
Piil Pesenggiri: Filosofi Hidup Orang Lampung yang Sering Disalahpahami

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 11:05 WIB

Tari Sigeh Pengunten: Sejarah, Makna, dan Filosofi Tarian Penyambutan Khas Lampung

Rabu, 3 Juni 2026 - 09:36 WIB

Sekura: Tradisi Masyarakat Saibatin yang Merawat Silaturahmi dan Identitas Budaya

Senin, 1 Juni 2026 - 18:16 WIB

Nuwo Sesat: Fungsi, Filosofi, dan Peran Balai Adat dalam Masyarakat Lampung

Senin, 1 Juni 2026 - 16:39 WIB

Kain Tapis Lampung: Sejarah, Motif, dan Makna Warisan Budaya yang Tetap Lestari

Minggu, 31 Mei 2026 - 15:20 WIB

Lampung Saibatin dan Pepadun: Mengenal Dua Adat Besar Masyarakat Lampung

Berita Terbaru